Sunday, July 7, 2013

SISTEM NILAI MANAJER INDONESIA



Mengidentifikasi perkembangan sistem manajemen Indonesia memerlukan sudut pandang orang Indonesia, yang secara nyata diwujudkan, dihayati, digeluti dan dipancarkan dalam diri para manajer Indonesia itu sendiri, yang mencakup masalah yang paling fundamental, yakni bagaimana ritme dan gaya manajemen Indonesia terkait sistem nilai dan orientasinya yang diresapi dan dihidupi oleh para manajer Indonesia tersebut. Mengapa sistem nilai sangat relevan bagi manajer dan eksekutif Indonesia? Karena, segala aktivitas manajerial akan mengalir dari tolak ukur nilai-nilai yang dihayatinya.

baca disini

Friday, July 5, 2013

ETIKA MANAJEMEN DAN SEMANGAT MANAGERIAL


 Pertanyaan yang coba dicari dan dijawab dari konteks etika manajemen dan semangat managerial sebenarnya sangatlah sederhana dan fundamental, yakni mengenai peradaban managerial dalam melanggengkan suatu organisasi. Managerial dalam pengertian suatu perbuatan-perbuatan sadar yang melibatkan kontrol terhadap alat-alat produksi, yang menghasilkan kemakmuran material kepada manusia sebagai suatu hasil dari POAC. Perlu diketahui bahwa managerial adalah sejarah itu sendiri.

baca di sini

BANGSA MANAJEMEN


Mengenai substantif tentang teori manajemen, saya sangat berhutang pada: (1). Frederick W.Taylor (1856-1915) ”his basic premise was that there was one best way to do a job and that way should be discovered and put into operation”. (2). Frank Gilberth (1868-1924) Lilian G (1878-1972) “the primary investigative tool in their research was motion study”. (3). Henry L Gantt (1861-1919) “reward innovation and scheduling innovation”, dan (4). Henry Fayol (1841-1925) “division of work, authority, discipline, unity of command, unity of direction, subordination of individual interest to the general interest, remuneration, centralization, scalar chain, order, equity, stability of tenure of personel, initiative, and esprit de corps”, karena telah memberi dan membangun frase ilmu manajemen dengan sabar.

baca disini

Monday, July 1, 2013

PERJUANGAN KOMPLOTAN MANAJEMEN UNTUK MEMPEROLEH KEKUASAAN

            C. Wright Mills (1956) mengemukakan pandangannya, bahwa kegiatan pemerintah dan ekonomi Amerika dikendalikan oleh kelompok-kelompok elit eksekutif yang kedudukannya pada lembaga pemerintahan, pendidikan, keuangan, dan industri berpindah-pindah dari lembaga yang satu ke lembaga yang lainnya. Mills menilai perusahaan sebagai basis awal bagi para elit eksekutif itu, dan juga merupakan tujuan akhir perpindahan jabatan mereka. Lebih tajam Mills beranggapan bahwa kekuasaan mereka berarti bahwa masyarakat menjadi didominasi oleh orang-orang tertentu, yang sepenuhnya mengikuti pandangan hidup yang dinyatakan oleh seorang eksekutif panting.

baca disini

Sunday, June 30, 2013

NAFSU PEMIMPIN itu DIBELAKANG AKAL SEHAT MANAJEMEN

Dunia boleh berubah, satu hal tetap konstan. Konsep re-manajemen semakin berkembang dan bertumbuh, tapi dorongan nafsu pemimpin itu terus ada. Why? Karena nafsu pemimpin adalah kecenderungan biologis untuk mencari kekuasaan. Dorongan itu ada sejak manajemen perlu legitimasi pemimpin. 

baca disini

Memperbaiki Omong Kosong PLANNING, ORGANIZATION, ACTUATING, and CONTROLLING

Pertanyaan dasar setiap organisasi adalah bagaimana POAC itu bekerja. Apa sebenarnya tugas POAC? Apakah hanya mengamati kegiatan manusia dengan rasa ingin tahu yang besar? Haruskah POAC menganjurkan kepada setiap modal sosial organisasi untuk mengembangkan pemahaman yang pasif tentang organisasi, ataukah POAC memberi kepada modal sosial organisasi inspirasi untuk mendobrak keunggulan bersaing organisasi? Apakah sebenarnya peran dan fungsi  POAC dalam suatu organisasi yang sedang berkembang?

lengkap baca disini

REFORMASI TO GOOD GOVERNANCE



Perubahan struktur lembaga masyarakat atau negara, yang terencana, yang mengarah ke distribusi kekuasaan, yang bertujuan menciptakan keterbukaan politik, mem-perluas partisipasi massa, terutama untuk golongan masyarakat tertentu, disebut reformasi politik.
Reformasi, merupakan pernyataan sikap kompromis antara, golongan yang memiliki pengaruh lebih besar, di masyarakat dengan kekuatan sosial yang pengaruhnya relatif lebih kecil. Jalan menuju kompromis, tak selamanya mulus. Artinya, tak tertutup kemungkinan terjadi konflik atau penggunaan kekerasan. Kompromis berarti ‘genjatan senjata’. Karena, legitimasi reformasi bersumber pada keputusan yang diambil berdasarkan suara mayoritas; demokratis.

baca disini